Ingatkah kalian kutipan pidato Bung Karno yang mengatakan bahwa:
“Pertanian adalah Soal Hidup dan Mati“?
Pertanian di Indonesia selalu mempunyai skenario tersendiri selama fluktuasi keberjalanannya. Dalam sebuah korporasi, skenario biasanya digunakan untuk memprediksi dan mencegah adanya perubahan sturuktural. Sektor pertanian menjadi salah satu sektor yang terlupakan di tengah berkembangnya sektor industri dan teknologi informasi di indonesia.
Sektor pertanian dalam artian luas mencakup subsektor tanaman pangan, perkebunan, kehutanan, peternakan, dan perikanan. Pada awalnya sektor pertanian ini mampu menyumbang PDB sebesar 15,3% pada tahun 2010 akan tetapi menurun menjadi 14,7%.
Hal ini disebabkan penurunan luas lahan padi dari 13.253.450 ha pada tahun 2010 menjadi 13.203.643 pada tahun 2011. Tentu saja tingkat produktivitas padi yang awalnya pada tahun 2010 sebesar 50,15 ku/ha kemudian pada tahun 2011 turun menjadi 49,80 ku/ha.
Padahal, sektor pertanian bertanggung jawab untuk menghidupi 2/3 penduduk miskin di Indonesia dan berkontribusi menurunkan 11% kemiskinan di tahun 2010. Ini merupakan fenomena yang aneh, dimana dapat kita lihat bahwa ada indikasi transformasi ekonomi dimana sektor pertanian terkonversi menjadi sektor modern yang artinya bahwa lahan pertanian semakin sempit karena pesatnya pertumbuhan dan pembangunan.
Fenomena lain adalah rendahnya tingkat produktifitas dalam sektor pertanian daripada sektor industri. Ini disebabkan rendahnya tingkat keterampilan tenaga kerja sektor pertanian walaupun memiliki kuantitas tenaga kerja yang sangat banyak. Sebagian besar petani Indonesia dikategorikan sebagai petani marginal dengan penguasaan aset produksi jauh dari memadai untuk suatu usaha yang layak bagi pemenuhan pendapatan keluarga.
Fenomena ekspansi sektor industri mendorong terjadinya proses transformasi ekonomi secara makro ke sektor industri dan jasa. Ini merupakan sebuah ironi dimana pada saat negara-negara maju sedang sibuk dengan pengembangan pertanian berkelanjutan, Indonesia, yang bangga dengan julukkannya sebagai negara agraris justru terbawa oleh transformasi ekonomi ke sektor industri dan jasa.
Abraham Lincoln presiden Amerika Serikat ke-16 juga pernah berkata bahwa “Pertanian yang membuat negara Amerika bersatu, bersahabat, dan saling kenal mengenal”.
Oleh karenanya pertanian merupakan kunci untuk kelanggengan suatu negara. Maka saat ini diperlukan terobosan dalam pembangunan pertanian di Indonesia, dan sebaiknya kita mengetahui tentang hal ini.
Sumber: HMRH ITB
“Pertanian adalah Soal Hidup dan Mati“?
Pertanian di Indonesia selalu mempunyai skenario tersendiri selama fluktuasi keberjalanannya. Dalam sebuah korporasi, skenario biasanya digunakan untuk memprediksi dan mencegah adanya perubahan sturuktural. Sektor pertanian menjadi salah satu sektor yang terlupakan di tengah berkembangnya sektor industri dan teknologi informasi di indonesia.
Sektor pertanian dalam artian luas mencakup subsektor tanaman pangan, perkebunan, kehutanan, peternakan, dan perikanan. Pada awalnya sektor pertanian ini mampu menyumbang PDB sebesar 15,3% pada tahun 2010 akan tetapi menurun menjadi 14,7%.
Hal ini disebabkan penurunan luas lahan padi dari 13.253.450 ha pada tahun 2010 menjadi 13.203.643 pada tahun 2011. Tentu saja tingkat produktivitas padi yang awalnya pada tahun 2010 sebesar 50,15 ku/ha kemudian pada tahun 2011 turun menjadi 49,80 ku/ha.
Padahal, sektor pertanian bertanggung jawab untuk menghidupi 2/3 penduduk miskin di Indonesia dan berkontribusi menurunkan 11% kemiskinan di tahun 2010. Ini merupakan fenomena yang aneh, dimana dapat kita lihat bahwa ada indikasi transformasi ekonomi dimana sektor pertanian terkonversi menjadi sektor modern yang artinya bahwa lahan pertanian semakin sempit karena pesatnya pertumbuhan dan pembangunan.
Fenomena lain adalah rendahnya tingkat produktifitas dalam sektor pertanian daripada sektor industri. Ini disebabkan rendahnya tingkat keterampilan tenaga kerja sektor pertanian walaupun memiliki kuantitas tenaga kerja yang sangat banyak. Sebagian besar petani Indonesia dikategorikan sebagai petani marginal dengan penguasaan aset produksi jauh dari memadai untuk suatu usaha yang layak bagi pemenuhan pendapatan keluarga.
Fenomena ekspansi sektor industri mendorong terjadinya proses transformasi ekonomi secara makro ke sektor industri dan jasa. Ini merupakan sebuah ironi dimana pada saat negara-negara maju sedang sibuk dengan pengembangan pertanian berkelanjutan, Indonesia, yang bangga dengan julukkannya sebagai negara agraris justru terbawa oleh transformasi ekonomi ke sektor industri dan jasa.
Abraham Lincoln presiden Amerika Serikat ke-16 juga pernah berkata bahwa “Pertanian yang membuat negara Amerika bersatu, bersahabat, dan saling kenal mengenal”.
Oleh karenanya pertanian merupakan kunci untuk kelanggengan suatu negara. Maka saat ini diperlukan terobosan dalam pembangunan pertanian di Indonesia, dan sebaiknya kita mengetahui tentang hal ini.
Sumber: HMRH ITB